ITS Benchmarking Kurikulum OBE Teknik Pertambangan ke LPMPP UPN Veteran Yogyakarta
Yogyakarta, 30 April 2026 — Upaya penguatan kualitas pendidikan tinggi teknik terus dilakukan perguruan tinggi di Indonesia. Salah satunya ditunjukkan oleh Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang melakukan kunjungan akademik ke Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pembelajaran (LPMPP) UPN Veteran Yogyakarta. Kunjungan ini difokuskan pada benchmarking pengembangan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE), khususnya pada Program Studi Teknik Pertambangan.
Benchmarking ini menjadi langkah strategis ITS dalam memastikan kurikulum yang dikembangkan tidak hanya memenuhi standar akademik, tetapi juga selaras dengan kebutuhan industri dan tuntutan profesi insinyur. Dalam lanskap pendidikan tinggi yang semakin kompetitif, pendekatan OBE dinilai sebagai fondasi penting untuk menghasilkan lulusan dengan capaian pembelajaran yang terukur, relevan, dan adaptif terhadap dinamika dunia kerja.
Delegasi ITS dipimpin oleh Kepala Program Studi Teknik Pertambangan, Ibu Hepi Hapsari Hadayani, S.T., M.Sc., Ph.D., didampingi oleh ibu Aisyah Salma, S.T., M.T., dan bapak Akbar Kurniawan, S.T., M.T. Kunjungan ini sekaligus menjadi ajang pertukaran praktik baik dalam merancang kurikulum yang mampu menjembatani kebutuhan akademik dan profesional secara seimbang. Dari LPMPP UPN Veteran Yogyakarta, hadir dalam kegiatan ini Kepala LPMPP Barlian Dwinagara, Sekretaris LPMPP Mofit Eko Poerwanto, Kepala Pusat Pengembangan Pembelajaran (Kapus PP) Herlina Jayadianti, serta Kepala Pusat Penjaminan Mutu Internal (Kapus PMI) Johan Danu Prasetya.
Dalam diskusi yang berlangsung intensif, delegasi ITS dan LPMPP UPNVY membahas secara mendalam desain kurikulum berbasis OBE, mulai dari penetapan profil lulusan hingga perumusan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) yang diturunkan secara sistematis ke dalam struktur mata kuliah dan Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK). Pendekatan ini menempatkan ketercapaian kompetensi lulusan sebagai pusat dari seluruh proses perancangan kurikulum.
Fokus utama benchmarking juga diarahkan pada kesiapan lulusan dalam memasuki dunia profesi. Kurikulum yang dikembangkan diharapkan mampu memfasilitasi lulusan untuk memenuhi standar profesi yang ditetapkan oleh Persatuan Insinyur Indonesia (PII), termasuk dalam proses sertifikasi dan pengakuan sebagai insinyur profesional. Dengan demikian, lulusan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki legitimasi di tingkat profesi.
Selain itu, diskusi turut menyoroti pentingnya sinergi antar perguruan tinggi dalam menjaga kualitas dan keselarasan kurikulum secara nasional. Dalam konteks ini, Forum Komunikasi Pendidikan Tinggi Pertambangan Indonesia (Forkopindo) dipandang memiliki peran strategis sebagai wadah koordinasi antar institusi pendidikan pertambangan. Forum ini diharapkan mampu mendorong harmonisasi profil lulusan dan standar kompetensi sehingga menghasilkan lulusan yang memiliki kualitas relatif seragam dan diakui secara luas. Kepala LPMPP UPN Veteran Yogyakarta dalam kesempatan tersebut menegaskan bahwa pengembangan kurikulum tidak dapat dilakukan secara parsial. Diperlukan kolaborasi yang erat antara perguruan tinggi, organisasi profesi, dan forum akademik agar kurikulum yang dihasilkan benar-benar relevan dan berdampak. Kurikulum, menurutnya, harus mampu menjadi jembatan antara kebutuhan akademik dan tuntutan nyata di dunia kerja.
Sementara itu, Ibu Hepi Hapsari Hadayani, S.T., M.Sc., Ph.D., Kepala Program Studi Teknik Pertambangan ITS menyampaikan apresiasi atas keterbukaan dan praktik baik yang dibagikan oleh LPMPP UPN Veteran Yogyakarta. beliau menilai bahwa pengalaman UPNVY dalam mengembangkan kurikulum berbasis OBE memberikan perspektif yang komprehensif dalam menyusun kurikulum Teknik Pertambangan yang lebih adaptif, terstruktur, dan berorientasi pada capaian pembelajaran. Kegiatan benchmarking berlangsung dalam suasana interaktif dan konstruktif, dengan pertukaran gagasan yang memperkaya pemahaman kedua belah pihak. Diskusi yang terbuka tidak hanya memperkuat aspek konseptual, tetapi juga memberikan gambaran implementatif dalam pengembangan kurikulum di tingkat program studi.
Melalui kegiatan ini, ITS berharap dapat mengadopsi dan mengadaptasi praktik baik yang relevan dalam penyempurnaan kurikulum Teknik Pertambangan. Lebih jauh, benchmarking ini juga membuka peluang kerja sama berkelanjutan antara kedua institusi, khususnya dalam penguatan kurikulum berbasis OBE yang selaras dengan standar profesi dan kebutuhan industri.
Pada akhirnya, langkah ini diharapkan mampu mendorong lahirnya lulusan teknik pertambangan yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga profesional, adaptif, dan siap berkontribusi dalam pembangunan sektor pertambangan nasional.